SURAKARTA — Di tengah pesatnya gempuran budaya global dan dominasi konten digital asing, Yayasan Tribuno Svastha Harena sukses menyelenggarakan agenda “Pelatihan Produksi Konten Literasi Digital Berbasis Bahasa dan Budaya Lokal” pada Sabtu (25/7/2026). Kegiatan yang berlangsung secara daring melalui Zoom Cloud Meeting ini diikuti oleh ratusan peserta dari berbagai kalangan, mulai dari akademisi, pendidik, mahasiswa, hingga kreator konten dari berbagai wilayah Indonesia.
Pelatihan ini digelar sebagai wujud nyata komitmen yayasan dalam merawat bahasa dan budaya daerah, sekaligus membekali masyarakat dengan kemampuan literasi digital yang adaptif terhadap perkembangan teknologi Artificial Intelligence (AI).
Mendorong Budaya Lokal Jadi Identitas di Ruang Digital
Acara diawali dengan sambutan dari Pembina/Ketua Yayasan Tribuno Svastha Harena, Dr. Tri Santoso, M.Pd. Dalam penyampaiannya, beliau menekankan bahwa kekayaan budaya dan bahasa daerah bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan fondasi utama dalam membangun karakter dan peradaban bangsa di era modern.
“Literasi digital bukan lagi sekadar kemampuan menggunakan perangkat teknologi, melainkan bagaimana kita memanfaatkan media digital secara bijak untuk menjaga identitas, memperkuat nilai kearifan lokal, dan menyampaikan narasi positif ke tingkat global,” ujar Dr. Tri Santoso.
Pemanfaatan AI untuk Akselerasi Konten Budaya
Memasuki sesi materi pertama, Hilmy Mahya Masyhuda, S.Pd., M.Pd. (Akademisi UIN Raden Mas Said Surakarta) membawakan topik “Strategi Produksi Konten Literasi Digital Berbasis Bahasa dan Budaya Lokal di Era AI”.
Ia memaparkan bagaimana peralatan berbasis AI seperti ChatGPT, Canva, hingga CapCut dapat dimanfaatkan oleh para kreator lokal untuk mempercepat proses riset, penulisan skrip, pembuatan visual, hingga editing video secara efisien.
“AI hadir bukan untuk menggantikan keaslian budaya kita, melainkan sebagai alat bantu (akselerator) agar kreator lokal dapat menghasilkan karya berkualitas tinggi dalam waktu yang lebih cepat. Namun, penggunaan AI harus tetap berpegang pada etika dan perlindungan Hak Cipta atas nilai-nilai tradisi,” tegas Hilmy.
Seni Storytelling: Merawat Bahasa Daerah Lewat Narasi Kreatif
Sesi kedua dilanjutkan oleh Risma Nur Rahmawati, S.S., M.A. (Dosen UMS, Kandidat Ph.D. FIB UGM, dan Founder Komunitas Sedaya MS) dengan materi bertajuk “Bercerita di Era Digital: Merawat Bahasa dan Budaya Lokal Melalui Konten Kreatif”.
Risma menyoroti pentingnya teknik penyampaian cerita (storytelling) yang relevan dengan psikologi audiens masa kini, khususnya Gen-Z. Ia menekankan penerapan rumus Show, Don’t Tell serta pembuatan hook di awal video agar konten budaya daerah tidak terkesan kaku atau membosankan.
“Setiap orang saat ini memiliki peran ganda, bukan lagi hanya sebagai penonton tetapi juga produsen pengetahuan. Agar bahasa daerah dan tradisi lokal dilirik generasi muda, kita harus mampu mengemasnya menjadi konten yang dekat, menyentuh emosi, dan membuat audiens merasa terhubung,” jelas Risma.
Sesi Interaktif dan Komitmen Keberlanjutan
Antusiasme peserta terlihat sangat tinggi sepanjang sesi diskusi dan tanya jawab. Para peserta aktif berkonsultasi mengenai strategi mengatasi keterbatasan alat produksi, penyesuaian durasi video pendek, hingga teknik perpaduan bahasa daerah dan bahasa Indonesia (code-mixing) dalam konten harian.
Melalui pelatihan ini, Yayasan Tribuno Svastha Harena berharap para peserta tidak hanya berhenti sebagai penikmat media sosial, tetapi tergerak menjadi bagian dari gerakan pelestarian budaya lokal di ranah digital demi menyalakan aksara dan membangun peradaban masa depan.
