SIAPKAN GENERASI PENGGERAK PERUBAHAN, PPM SANGEN SELENGGARAKAN PELATIHAN “KELAS TELADAN”

SIAPKAN GENERASI PENGGERAK PERUBAHAN, PPM SANGEN SELENGGARAKAN PELATIHAN “KELAS TELADAN”

Edutalent.id – Sebagai sebuah lembaga pendidikan, Pondok Pesantren Modern Muhammadiyah Sangen mengusung visi Hafizh, Alim, Berakhlak, dan Berkiprah. Visi tersebut dijadikan panduan dalam pelaksanaan semua aktivitas pendidian dan pembinaan di Pondok tersebut. Setiap visi memiliki implementasi kegiatan program yang saling mendukung. Visi hafizh diinternalisasikan melalui kegiatan halaqah tahfizh, visi Alim melalui kegiatan KBM, visi Berakhlak melalui pembinaan kesantrian, dan visi Berkiprah diimplementasikan setelah menempuh pendidikan di pesantren.

Indikator kesuksesan dari kiprah santri adalah mampu menjadi penggerak perubahan pada lingkungan selanjutnya. Menilik pada kalender pendidikan nasional, santri telah menyelesaikan kegiatan akademik pada akhir bulan April. Melihat betapa berharganya waktu, pengurus pesantren ingin selalu memberikan pendidikan kepada semua santri sebelum lulus dan menjalani pengabdian atau perkuliahan. Dengan demikian, pengurus pesantren berinisiatif untuk mengadakan program “Kelas Teladan” sebagai wadah pelatihan terstruktur untuk menempa santri semakin siap menghadapi masa depan.

Program ini merupakan program yang dilaksanakan selama 33 hari. Dimulai pada 11 Mei hingga 12 Juni 2026. Fokus dari program ini adalah untuk menenamkan skill-skill yang dibutuhkan untuk menjadi pengasuh dan mahasiswa mandiri pasca lulus pesantren. Aspek utama yang ditanamkan dalam program ini adalah aspek kepribadian dan ruhiyyah, manajerial pendidikan dan pengasuhan, serta skill sosialisasi komunikatif. Materi pelatihan dalam program ini tidak hanya diberikan secara klasikal di dalam kelas, melainkan juga materi materi yang dipraktikkan di lingkungan sekitar.

Materi tentang kepribadian dan ruhiyyah yang diajarkan dalam program tersebut diinternalisasikan melalui beberapa sub materi. Materi materi tersebut yaitu kuat ruhiyyah, bertanggung jawab, peka, bijak mengelola emosi, yang dilaksanakan di dalam kelas nan teduh dan tenang supaya santri bisa khidmat dalam menangkap setiap materi yang disampaikan. Adapun pelatihan kedisiplinan dilaksanakan berada di lokasi We Land Bulu Sukoharjo dengan mentor langsung dari TNI.

Materi tentang manajerial dan pengasuhan diinternalisasikan melalui pelatihan manajerial kelas, manajerial TPA, dan manajerial aktivitas pesantren. Skill manajerial dan pengasuhan juga diinternalisasikan melalui dua cara. Materi klasikal diberikan di dalam kelas, sedangkan materi implementasi diberikan di lapangan secara langsung. Untuk memahami kemampuan manajerial aktivitas pesantren, santri dilibatkan langsung dalam membina dan mengawasi santri dalam aktivitas keseharian. Skill manajerial madrasah juga ditanamkan dengan melibatkan santri dalam kegiatan akademik di madrasah. Manajerial TPA pun diimplementasikan dengan santri mengajar TPA di masjid-masjid terdekat.

Untuk menguatkan kesadaran mendalami praktik manajerial yang diajarkan tersebut, Arif Fahrudin sebagai kepala madrasah sekaligus salah satu pemateri menyampaikan dalam sesi materi manajemen kelas bahwa “Pelatihan ini mengajarkan berbagai skill manajerial yang bisa jadi kelak akan berguna untuk kalian di masa yang akan datang. Bisa jadi skill yang diajarkan dalam pelatihan ini kelak akan berfungsi sebagai jalan hidup kalian mencari rejeki”.

Praktik di lapangan tersebut diproyeksikan mampu membiasakan santri cakap berkomunikasi aktif dengan berbagai pihak.  Berkomunikasi dengan santri, dengan guru, dengan masyarakat, dan juga dengan tokoh masyarakat. Pada dasarnya komunikasi adalah modal terbesar santri untuk menjadi penggerak perubahan. Namun pada praktik di lapangan, banyak alumni pesantren dekade ini mengalami kecanggungan dalam komunikasi aktiv. Oleh karena itu program Kelas Teladan ini didesain agar santri mampu menyebarkan ilmu yang telah dipelajari selama masa pendidikan dengan kemampuan berkomunikasi yang baik.

Dalam pembukaan pelatihan lapangan bersama TNI, mudir pesantren Ust M. Saifudin, LC, M. Ag juga menyerahkan para santri agar dididik dengan kedisiplinan. Dalam pidatonya beliau menyampaikan “Di sini kalian akan dididik dengan standar tentara, supaya tidak ada lagi santri yang ingah ingih” kata dalam bahasa Jawa untuk mengungkapkan seseorang yang bermental lemah.

Pelatihan ini berjalan dengan penuh khidmat serta antusiasme maksimal dari seluruh santri. Hal ini terlihat dari keaktivan semua santri mengikuti seluruh rangkaian kegiatan walaupun periode pelatihan yang lama cenderung melelahkan dan membosankan. Meskipun demikian, keberhasilan program ini terbukti dengan kemampuan para santri untuk menjadi penggerak perubahan di tempat pengabdiannya kelak, atau pada jenjang perkuliahannya ke depan. Besar harapan seluruh pengurus kelak ilmu yang didapatkan oleh santri bukan hanya menjadi wacana dan pemahaman dalam hati, melainkan menjadi motor penggerak perubahan ke arah positif bagi agama, bangsa, negara, dan lembaga pendidikan di Indonesia tentunya.

Penulis: Arif Fahrudin

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *