Edutalent.ld, BANYUMAS, 22 Mei 2026 – Dalam upaya mencetak generasi muda yang unggul secara akademik dan kokoh secara spiritual, SD Muhammadiyah Banyumas menggelar agenda tahunan Ujian Tahfidz Al-Qur’an pada Kamis (21/5) kemarin. Kegiatan yang berlangsung di Aula Utama Sekolah ini diikuti lebih dari dua puluh siswa yang terdiri dari siswa kelas 3 sampai kelas enam Agenda ini dilaksanakan sebagai implementasi nyata program Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) sekaligus menyukseskan Program Cinta Al-Qur’an yang dicanangkan oleh lembaga.
Dari perspektif Administrasi Pendidikan, ujian ini bukan sekadar aktivitas keagamaan, melainkan bentuk konkret dari Manajemen Kurikulum Berbasis Karakter. Pihak sekolah berhasil mengintegrasikan kurikulum nasional dengan nilai-nilai lokal religius secara sistematis. Ujian yang berlangsung khidmat ini menguji hafalan siswa mulai dari juz 30 hingga juz28. Untuk menjaga objektivitas dan standar penjaminan mutu (quality assurance) pendidikan, sekolah mengundang penguji dari pondok tahfidz

Kepala SD Muhammadiyah Banyumas bapak Muzzaka MSidiastono SP menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari strategi manajemen kesiswaan untuk membentuk karakter kedisiplinan, kejujuran, dan kesabaran siswa di era digital.
“Menghafal Al-Qur’an membutuhkan konsistensi tinggi. Melalui Program Cinta Al-Qur’an ini, kami melakukan inovasi kedisiplinan. Ketika interaksi spiritual siswa kuat, maka output karakter dan akhlak mereka di sekolah juga akan meningkat secara signifikan,” ujar Muzzaka MSidiastono SP.

Suasana haru menyelimuti lokasi saat sesi musyafahah (setoran langsung) yang dihadiri oleh orang tua murid. Pihak yayasan juga memberikan apresiasi tinggi dengan menyediakan beasiswa bagi siswa yang meraih predikat kelulusan terbaik (Mumtaz). Melalui standardisasi ujian ini, SD Muhammadiyah Banyumas menegaskan komitmennya dalam melakukan akuntabilitas publik, membuktikan bahwa pengelolaan lembaga pendidikan swasta mampu melahirkan output lulusan yang seimbang antara kecerdasan intelektual dan spiritual.
Menariknya, momentum ini juga menjadi wadah evaluasi dua arah antara sekolah dan orang tua. Mewakili komite sekolah, Ny. Sofia, salah satu orang tua siswa, memberikan apresiasi sekaligus masukan berharga bagi manajemen sekolah. Ia berharap alokasi waktu untuk program hafalan ini bisa ditambah karena durasi yang ada saat ini dirasa masih kurang optimal bagi anak-anak untuk mendalami hafalan di tengah padatnya jam pelajaran umum.
Menanggapi aspirasi tersebut, Muzzaka MSidiastono SP menyambut baik. Dari sisi Manajemen Hubungan Sekolah dan Masyarakat (Humas), masukan ini menjadi dasar penting untuk melakukan rekonstruksi jadwal pelajaran pada semester depan agar porsi waktu pembiasaan religi dapat lebih proporsional.
Penulis: yuyun supadmi
