Edutalent.id, Klaten – Karang Taruna Organisasi Tunas Harapan (OTH) Desa Karangtalun, Kecamatan Karangdowo, Kabupaten Klaten kembali menggelar kegiatan rutin bank sampah pada Minggu (14/9). Kegiatan ini menjadi agenda bulanan yang telah berjalan sejak tahun 2010, sebagai bentuk kepedulian terhadap pengelolaan sampah rumah tangga yang kerap menjadi permasalahan di lingkungan warga.
Ketua Karang Taruna, Hartono, mengungkapkan bahwa ide pendirian bank sampah berawal dari keprihatinan terhadap rendahnya kesadaran masyarakat dalam mengelola sampah. “Dengan kesepakatan anggota, terbentuklah ide bagaimana memanfaatkan sampah sebagai cuan, baik untuk kas maupun manfaat lain bagi masyarakat,” ujarnya Jumat (19/9).

Bank sampah ini dikelola secara mandiri oleh anggota Karang Taruna. Setiap anggota rutin mengumpulkan sampah yang dimiliki setiap bulannya. Jenis sampah yang dikumpulkan antara lain plastik, kardus, dan minyak jelantah, semuanya merupakan limbah rumah tangga yang memiliki nilai ekonomis.
“Sistemnya dari anggota langsung. Sampah dipilah, seperti plastik polos, plastik berwarna, maupun kardus yang memiliki nilai jual. Pemilahannya kita bawa ke pengepul,” tambah Hartono. Namun ia juga mengakui adanya tantangan, yakni ketersediaan sampah yang makin sedikit, sehingga suplai menjadi terbatas.
Dalam jangka panjang, Karang Taruna berharap kegiatan ini dapat semakin melibatkan masyarakat luas. “Sampah itu bisa menghasilkan uang. Kalau dikelola dengan baik, bisa membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar,” ungkapnya.
Harapan besar juga disampaikan jika pemerintah dapat menyediakan alat pengolahan sampah. Dengan adanya fasilitas tersebut, organisasi ini berencana mengembangkan pengolahan sampah menjadi kerajinan tangan.

Mahasiswa KKN UIN Raden Mas Said Surakarta yang turut serta dalam kegiatan ini juga menyampaikan dukungannya. Ketua KKN, Muhammad Aslam Anafi, menyebut bahwa kegiatan bank sampah sangat positif dan perlu disosialisasikan lebih luas. “Tidak semua masyarakat sadar bahwa sampah bisa diolah kembali. Karang Taruna ini sudah berjalan baik dan perlu menjangkau masyarakat lebih luas,” ujarnya.
Ia juga menyoroti masih kurangnya fasilitas tempat pembuangan sampah serta minimnya kesadaran masyarakat yang masih membuang sampah ke kali. Untuk itu, ia berharap adanya program bersih-bersih sungai bersama dan penyediaan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sebagai solusi.

“Harapannya, dari kegiatan ini bisa menumbuhkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga lingkungan. Bahkan kalau bisa, kegiatan seperti ini dibawa ke kampus maupun lingkungan tempat tinggal masing-masing,” tutup Aslam.
Penulis : Ipung Juniyanti (Duta Perpustakaan UMS)

